Huawei kembali mengenalkan wearable piranti terbaru untuk pasar Indonesia. Kesempatan ini, perusahaan asal Tiongkok itu mengenalkan Huawei Band 4e.

Seperti namanya, aksesori ini adalah smartband untuk menghitung rutinitas olahraga pemakainya. Bukan hanya itu, Huawei Band 4e dapat memberi instruksi untuk pemakai untuk lari yang betul.

“Stabil dalam berkembang, HUAWEI Band 4e mengenalkan pengembangan two wearing modes di kaki dan pergelangan tangan untuk memperoleh semakin banyak data,” papar Deputy Country Director Huawei BCG Indonesia, Lo Khing Seng dalam info sah, Selasa (2/2/2021).

Menurut Lo Khing Seng, Huawei bekerjasama dengan lembaga penelitian profesional untuk mendatangkan anaisis profile lari dari pemakai dan bisa memberi anjuran berdasar catatan statistik yang dihimpun.

Smartband ini diberi six-axis motion yang bisa menghitung pergerakan spasial dan perputaran satu object. Saat digunakan dalam model underfoot, Huawei Band 4e bisa memberikan dukungan riset pada tujuh metrik pergerakan lari.

Berdasar data riil dan metrik, pemakai akan terima anjuran yang dapat dipercaya berdasar riset data yang dilaksanakan pada sikap berlarinya. Ketepatan perhitungan jarak lari rerata aksesori ini capai 97 % tanpa GPS.
Kecuali lari, Huawei Band 4e dapat digunakan pemakai memperoleh info tepat dalam rutinitas naik sepeda. Pemakai dapat memakainya untuk menganalisis perform ketika bermain basket.
Huawei Band 4e dibandrol pada harga Rp 349.000 melalui pre-order pada toko sah Huawei di Shopee. Sama dengan aksesori sama, ada banyak feature yang lain berada di piranti ini, seperti pengukuran kualitas tidur, pemberitahuan pesan/pangggilan, sirene, sampai find my phone.
Di lain sisi, Kementerian Industri dan Tehnologi Info Tiongkok ungkap 90 perusahaan ajukan permintaan untuk membuat Komite Tehnis Standarisasi Circuit Terintegrasi Nasional.
Salah satunya konsentrasinya ialah mengolah industri semikonduktor berdikari. Begitu diambil dari Gizmochina, Senin (1/2/2021).
Sudah diketahui, industri semikonduktor Tiongkok sekarang ini jadi salah satunya kekurangan dalam manufacturing elektronik. Bahkan juga, beberapa perusahaan Tiongkok condong bergantung pada Amerika Serikat dalam soal tehnologi chipset.
Sebutlah saja Huawei dan ZTE, yang dilarang untuk memakai chipset dan tehnologi Qualcomm. Mengakibatkan, usaha handphone Huawei bahkan juga jadi terancam sebab lisensi paten chip yang dipunyai Qualcomm jangan digunakan.
Untuk itu, 90 perusahaan tehnologi Tiongkok ini setuju untuk bersama mengolah industri semikonduktor mandirinya.
90 perusahaan Tiongkok yang diartikan dimulai dari Huawei, HiSilicon, Xiaomi, Tiba Semiconductor, Unichip Microelectronics, Zhanrui Communications, ZTE Microelectronics, SMIC, Tiba Mobile, China Mobile, China Unicom, ZTE, Tencent, dan sebagainya.
“Arah dari pembangunan komite ini untuk mengkoordinasikan industri yang kurang kuat dan promo pekerjaan standarisasi circuit terintegrasi. Ini mempunyai tujuan untuk perkuat tim building berkaitan standarisasi (industri semikonduktor),” catat Gizchina.